Cairo, 28 Januari 2011
Senja kali ini terusik oleh suara pesawat yang tidak seperti biasanya. Satu dua kali terdengar juga suara peluru keluar dari selongsongnya. Ah, ada apa denganmu, Mesir?. Bangkitkah engkau dari keterpurukan setelah 30 tahun lebih dikuasai olehnya?.
Zidny menutup buku dairy yang ia dapatkan dari teman spesialnya ketika ia memutuskan untuk melanjutkan studinya ke negeri dimana novel fenomenal Ayat-ayat Cinta itu berlokasi. Terhitung sudah tiga hari berlalu setelah ia menyelesaikan ujian term 1[1] di tahun pertamanya ini. Biasanya, Zidny berdua dengan Hp dengan semua aplikasi yang bisa termainkan disana, opera mini, snaptu, eBuddy, Shmessenger, kira2 itu yang selalu ia kunjungi tiap kebosanan menyergap.
Tapi sayang, rutinitas itu tak bisa ia lakukan sekarang. Sudah tiga hari ini, jaringan internet dan telepon tak juga kembali beraktivitas. Tak ada berita lain yang ditayangkan oleh channel tv setempat selain demo yang tersebar dibeberapa sudut. Tak jarang pula suasana malam membuatnya tak bisa memejamkan mata karena desing peluru yang sering ia dengar. Bahkan peraturan baru Bu’uts[2] mengharuskan para mahasiswa untuk bersabar tidak melihat keadaan diluar pintu gerbang. Jam malam yang diberlakukan di Mesir membuat masyarakat asing di Mesir pun harus rela tetap berada didalam rumah demi keselamatan jiwanya.
Ia jadi teringat obrolannya dengan Ameni, Read the rest of this entry »