Cairo, 28 Januari 2011

Senja kali ini terusik oleh suara pesawat yang tidak seperti biasanya. Satu dua kali terdengar juga suara peluru keluar dari selongsongnya. Ah, ada apa denganmu, Mesir?. Bangkitkah engkau dari keterpurukan setelah 30 tahun lebih dikuasai olehnya?.

Zidny menutup buku dairy yang ia dapatkan dari teman spesialnya ketika ia memutuskan untuk melanjutkan studinya ke negeri dimana novel fenomenal Ayat-ayat Cinta itu berlokasi. Terhitung sudah tiga hari berlalu setelah ia menyelesaikan ujian term 1[1] di tahun pertamanya ini. Biasanya, Zidny berdua dengan Hp dengan semua aplikasi yang bisa termainkan disana, opera mini, snaptu, eBuddy, Shmessenger, kira2 itu yang selalu ia kunjungi tiap kebosanan menyergap.

Tapi sayang, rutinitas itu tak bisa ia lakukan sekarang. Sudah tiga hari ini, jaringan internet dan telepon tak juga kembali beraktivitas. Tak ada berita lain yang ditayangkan oleh channel tv setempat selain demo yang tersebar dibeberapa sudut. Tak jarang pula suasana malam membuatnya tak bisa memejamkan mata karena desing peluru yang sering ia dengar. Bahkan peraturan baru Bu’uts[2] mengharuskan para mahasiswa untuk bersabar tidak melihat keadaan diluar pintu gerbang. Jam malam yang diberlakukan di Mesir membuat masyarakat asing di Mesir pun harus rela tetap berada didalam rumah demi keselamatan jiwanya.

Ia jadi teringat obrolannya dengan Ameni, Read the rest of this entry »

mbah sahal*

Posted: March 18, 2012 in about

KH. Sahal Mahfudh

“Fiqih, muara keadilan sosial bagi masyarakat”

IAIN Walisongo, 2008. Di sebuah kelas berkapasitas 25 mahasiswa yang masih anget-angetnya menikmati hidangan kelulusan Madrasah Aliyah dan setingkatnya: “Dari Kajen?, Santrinya mbah Sahal?,”. Pertanyaan yang muncul dari dosen ketika beberapa mahasiswi baru memperkenalkan background pendidikanya, sebuah ritual yang lazim ada di setiap komunitas yang baru terbentuk.

Kajen, dengan alamiahnya selalu diidentikkan dengan keberadaan Kyai bersahaja nan kharismatik bernama lengkap KH. Mohammad Ahmad Sahal Mahfudh, seorang tokoh cendekia Indonesia yang lahir dari pasangan KH. Mahfudh dan Hj. Badi’ah di desa Kajen, kecamatan Margoyoso, kabupaten Pati, Jawa Tengah. Mbah Sahal, panggilan akrab bernuansa hormat untuk beliau oleh santri-santrinya baik yang mempunyai sanad kelimuan dari beliau ataupun yang hanya mendengar sepak terjangnya dalam keilmuan.

Sejak kelahiranya pada 17 Desember 1937, mbah Sahal tumbuh di lingkungan pesantren Maslakul Huda Polgarut Utara, yang merupakan rintisan dari ayahnya sejak tahun 1912. Lingkungan yang memang strategis dalam pembentukan karakter spiritual dan sosial. Tak hanya melewati fase pertumbuhan biologis, Pesantren menjadi saksi perjalanan mbah Sahal mulai dari belajar, mengajar dan mengabdikan diri sebagai pengelola pesantren. Lingkungan pesantren yang memang tempat berkumpulnya kemajemukan karakter, menumbuhkan benih-benih ajaran demokratis sebagai usaha melebur diantara perbedaan-perbedaan tanpa mengisolasi satu pihak tertentu. Read the rest of this entry »

catatan pojok*

Posted: March 18, 2012 in dayri

Mahasiswa. Setiap kata itu diperdengarkan terlintas dalam benak kalau ia diidentikan dengan kampus, tugas, paper, skripsi dan tak terlepas pula organisasi. Kalau ditilik dari jenjang pendidikan, mahasiswa merupakan jenjang tertinggi, setelah menikmati pendidikan dasar dan menengah selama 12 tahun. Hanya beberapa orang yang beruntung dapat menikmati jenjang pendidikan ini, ya, karena jenjang pendidikan terakhir ini termasuk jenjang yang tidak dijamin cuma-cuma oleh pemerintah Indonesia untuk bisa dinikmati oleh semua lapisan masyarakatnya.

12 tahun berlalu dari kebiasaan seorang mahasiswa yang sayangnya dididik sebagai konsumen. Sejenak mengenang ketika kita masih dengan polosnya menduduki bangku Sekolah Dasar. Peraturan, jadwal, PR, mata pelajaran telah disiapkan untuk kita lahap selama 6 tahun. Teraturkah hidangan itu kita nikmati, akan menentukan nasib kita di tahun terakhir sekolah dasar. Tak jauh beda dengan 6 tahun setelahnya. Kita hanya akan menikmati hidangan pendidikan yang memang sudah ditulis dalam skenario sekolah kita. Budaya konsumtif yang kita lakukan inilah yang akan membentuk karakter dan kepribadian kita semua sebagai warga negara Indonesia yang selalu mengkonsumsi apapun. Read the rest of this entry »

1 tahun pasca revolusi…

Posted: January 25, 2012 in dayri

mau bersihin sarang tsarosir dulu ah…*pengakuan lama g crewet2 disini.

25 januari 2012, 4 hari pasca ulangtahun, yang masih aja di tengah-tengah ujian. ulangtahun yang berbeda ditahun ini. yup, angap aja orang2 mesir ikut merayakan hari jadiku deh ya…*maksa. siang agak kesore2an, g sempet ngitung berapa orang yang lewat didepen buuts, berasal dari berbagai keluarga, miskin sederhana kaya, soalnya g sempet nanya juga apa golongan ekonomi mereka. #abaikan.

setelah chek rechek dari berbagai narasumber *amu baqolah, amu bawab n ablah buuts (sok jadi wartawan), ternyata mereka lagi berkeruyukan nostalgia satu tahun yang lalu. disebut apa terserah yang menyebut, kalo buka-buka laci dairy ini sih aku menyebutnya “hari kebangkitan”. (aslinya sempat aku abadikan, tapi file nya entah kemana)
bangkit…. Read the rest of this entry »